Berdamai Dengan Mentari Pagi

Postingan belajar menulis pertama kali ini mencoba untuk memapar sebuah tulisan sederhana, karena walau sekedar menulispun ternyata juga tidaklah gampang, apalagi bagi saya.

Bagi segelintir makhluk di alam raya ini, memulai rutinitas aktifitas roda kehidupan dan menikmati indahnya pagi bisa jadi menjadi sebuah hal yang amat sangat luar biasa, adalah ‘effort’ yang membutuhkan perjuangan didalamnya. Terutama bagi kaum ‘nocturnal’ yang dalam kesehariannya berpola aktifitas hidup yang kontradiktif dengan sewajarnya aktifitas kehidupan manusia pada umumnya, bangun pagi, kerja, sekolah atau apapun dan beristirahat menjelang malam saatnya istirahat menjelang.

Disyukuri ataupun tidak, ini semua adalah wujud anugerah dan sebuah ihtiar dalam menyikapi hidup dalam nuansa yang berbeda di sela kiri kanan kehidupan rutinitas yang mulai membosankan bahkan kadang melelahkan, hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang memusingkan mata memforsir tenaga.

Pagi ini adalah kisah tentang membumi hangus rasa kantuk yang melanda, ketika dimana rasa kantuk terasa dengan hebatnya ketika mentari menjelang yang kali ini tidaklah demikian kenyataannya. Kali kedua dalam Minggu ini berdamai dengan mentari pagi dan menyapa indahnya anugerah Ilahi.

Ketika semua bergegas ke sekolah, ke kantor, ke sawah dan memulai rutinitas paginya, saya paksakan untuk mengayuhkan roda ini membunuh rasa kantuk dan menikmati hamparan luas sawah menjelajah di Selatan rumah. Sekilas melihat dinamika para penggila sepeda yang begitu hebat dan tangguhnya mereka dalam postingan-postingan nya, ternyata nafas rokok kretek ini pun keras melawan untuk bergaya ala-ala mereka, seolah mengolok ‘ra usah melu-melu’,  satu kayuh dua kayuh sudahlah cukup melelahkan, sedikit tanjakan pun memicu cardio ini berdegup kencang, ya…ternyata memang berat saudara bagi kaum penikmat secukupnya seperti saya, at least rasa kantuk ini pun hadir sudahlah cukup membuat bahagia segera pulang dan rehat, sesimpel itu saja intinya.

Entah akan sampai kapan anugerah ini akan berlangsung, bersyukur adalah wajib dengan menikmati rutinitas dan memapar imajinasi di malam hari untuk berkarya dan berusaha menikmatinya. Amin.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.