Tidak bermaksud menghakimi siapa atau apa yang dzalim dalam bahasan ini, pengalaman telah mengajarkan banyak hal untuk menjadi lebih tahu dan mengerti. Pahit? kadang-kadang dan seringnya sih iya …

Pengalaman memicu diri untuk memahami dari sisi berlawanan dari sudut pandang seolah diri ini pelakunya, dan bukan menjadi korban belaka. mari kita belajar jahat. #belajarjahat

Menilik dari sisi Yang Penting Uang bahasan ini tidaklah terlalu penting untuk diceritakan karena pada akhirnnya semua kembali kepada peruntukannya. Namun dari sisi penikmat karya, berkarya yang baik, benar atau jujur, hal ini bukanlah sesederhana yang kita bayangkan yang serta merta datang menjadi uang begitu saja. Ada sebuah proses didalamnya, ada perjuangan, ada sebuah rangkaian kegagalan didalamnya, ada kerugian yang teramat besar didalamnya, rugi waktu bahkan finansial.

BEESWAX ALAMI

Dipungkiri atau tidak, akhir-akhir ini kata Alami ditelinga ini menjadi sebuah tanda tanya besar untuk meyakinkan diri sendiri, apa iya alami? Jangan-jangan dicampur A, B atau bahkan C.  Disaat ‘demand’ begitu melimpah ruah yang tidak diimbangi dengan ‘supply’ yang mencukupi, bagi sebagian orang yang jeli dan cerdas memanfaatkan kesempatan, jalan pintas adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mengatasinya. Sedikit main sulap dengan Beeswax Alami.

Dan akhirnya menjadi klaim alami yang dicampur ‘paraffin’  sebagai salah satu contohnya. Bermodal paraffin seharga 5-10 ribu per kg dengan sedikit trik sulap menjadi lilin Lebah alami, cairkan, cetak rapi, selesai dan siap dihidangkan di lapak dengan harga tinggi, selesai tanpa celah yang serupa tapi ternyata tidaklah sama, begitu paket datang maunya marah-marah karena barang telah terbeli namun tak dapat kembali……yang sabar ..ini semua cobaan…

Sebagai pemburu yang memang menghendaki benar-benar alami dengan segala kebutaan akan pemahaman, lumrah saja jika mengiyakan memang demikian adanya ‘alami’. Tetapi janganlah berlama-lama tenggelam dalam ketidakpahaman jika hari-hari ke depan seiring langkanya lilin lebah alami yang dikehendaki semakin susah didapat, semakin mahal,  dan menjadi sebuah kesempatan besar bagi mereka untuk semakin menenggelamkan kita dalam ketidaktahuan.

Dalam bahasan ini karena peruntukan nya lah kenapa mencari yang alami, meskipun diluaran juga ada yang terrang-terangan menjual lilin batik karena memang peruntukan nya untuk batik yang sudah dicampur dengan macam-macam bahan batik, dan hal tersebut sah-sah saja diperjualbelikan karena memang toko bahan batik yang belipun pun juga para penggiat kerajinan batik. Namun bukan berarti dengan lebarnya kesempatan menjual lilin batik kemudian diklaim menjadi lilin lebah alami dan ditawarkan di pasar yang bukan peruntukannya karena ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman kita sebagai pembeli atau pengguna yang tahunya hanya beli , olah , jadi dan jual kembali menjadi bentuk yang lain.

Disini tahu saja tidaklah cukup, mari #belajarjahat untuk mengerti lebih

Berikut adalah keisengan mencampur Beeswax Alami 50 (100 ribuan per kg) dicampur dengan Parafin 50 gr (5 ribuan per kg).

Karakter lilin lebah alami khas dan unik baik dari aroma, tingkat kekerasan, warna dan kelengketannya (lengket yang dominan masih keras). Cenderung ‘opague’ atau butek, surem, buram atau apapun sebutannya dengan khas aroma yang tidak  jauh dari aroma madu yang terkadang manisnya tajam bahkan menyengat dan khas aroma bercampur dengan remah-remah sarangnya sebagai penghasil lilin lebah satu ini. Warna yang tidak pernah konsisten tergantung darimana didapatkan karena makanan lebah lah yang pada akhirnya turut andil memberikan hasil keragaman lilin lebah tersebut.

Karakter Paraffin Putih, mengkristal, kilau hampir bening pada tiap ‘flake’ yang dihasilkan, ‘brittle’ atau mudah rapuh. Contoh sederhana adalah lilin putih yang dijual di toko-toko yang sering kita beli jika mendadak di rumah kita mati lampu. Beli, patahkan, atau tumbuk sekalian jika ingin kenal lebih tentang parafin.

Pada hasil padat campuran 50:50 antara lilin lebah alami (disini lilin lebah yang digunakan benar -benar alami beraroma manis dan agak menyengat dan pemanasan kedua karena pemanasan pertama dari peteni lebahnya penjualnya) hasil akhir yang didapatkan menunjukkan bahwa aroma lilin lebah alami masi muncul pada campuran 50:50 tersebut dan masih berwarna solid padat buram jauh dari kata bening. Sepintas bisa dikatakan masih mirip dengan yang alami.

Namun ketika kedua nya dibelah antara yang 50:50 (gambar atas kiri) dengan yang alami (gambar atas kanan) , perbedaan mulai muncul.

Yang alami masih tangguh dengan kepadatannya, dan yang campuran mulai muncul sifat paraffin. Mulai tampak ada serpihan sedikit kilau kristal berukuran butir sisi-sisi sayatan/irisan lengketpun hampir tidak dijumpai seperti yang benar-benar alami.

Pada Kondisi cetak lembaran tipis seperti pada gambar (lilin yang mengandung campuran akan mudah dipatahkan dengan tangan dan khas layaknya kita mematahkan lilin api putih di pasaran). Atau dapat dikatakan ‘breakable‘ semacam ada suara ‘craking‘ ketika mematahkannya.

‘Jika ragu lilin lebah yang didapat alami atau bercampur Paraffin, cairkan sedikit pada cetakan bentuk lembaran tipis, tunggu hingga padat dan benar-benar dingin dan silahkan dipatahkan cukup dengan tangan’

Namun tidak demikian dengan lilin lebah alami, meskipun lembaran dan tipis masih saja susah untuk dipatahkan ‘unbreakable‘ dan cenderung masih bertahan dengan sifat keras nya yang lentur, lengket tanpa patah sekedar bengkok atau lengkung saja tanpa patah sedikitpun.

Dengan komposisi 50:50, jika kita tidak benar-benar mengerti sekilas mirip sekali dengan yang alami, aroma madu masih muncul dan warna nya pun masihlah dikatakan masuk layaknya alami.

Namun berbeda lagi jika menjumpai lilin lebah alami dengan warna yang seindah di bawah ini dapat dipastikan bahwa campuran paraffin pada lilin tersebut lebih dari 50% dengan campuran Lilin lebah alami yang lebih sedikit tentunya.

Lebih terang benderang, kilau , hampir tanpa ada lengket-lengketnya sedikitpun bahkan cenderung pecah butiran atau bongkah kecil. Patahan yang khas seperti mematahkan lilin api di rumah jika sedang mati lampu.

Jadi alternatif menyikapi jika lilin lebah yang konon di klaim alami namun ternyata bercampur dengan paraffin, siapkan perangkat sederhana berikut untuk mengujinya :

1. Belilah lilin api di warung terdekat yang 1 bungkus isi 6 (semoga tidak salah) kemudian patahkan atau bahkan dicacah atau tumbuk sekalian dan pahami perilakunya. Atau jika memang ada belilah Paraffin, kenalilah Paraffin dengan baik. Lilin lebah yang bercampur paraffin tidak akan jauh-jauh memiliki watak yang cenderung parafffin. Terlebih jika menemukan lilin lebah yang memiliki komposisi paraffin di atas 50 %.

2.  Panaskan lilin lebah yang konon alami tadi dan bentuklah sedemikian rupa menjadi lembaran tipis untuk uji patahan apakah mudah patah atau tidak (bisa di loyang kecil dilapis plasik atau cetakan kecil jika ada). Minimal kedua tangan ini mampu untuk mematahkan hasil cetakan tadi (sekali lagi bayangkan ketika mematahkan lilin apai penerangan dirumah).

Itu tadi sekedar kasus sederhana sepanjang proses belajar untuk mengenali dan untuk mengerti, satu dari sekian banyak cara untuk mengerti dan pasti masih banyak cara untuk kenal lebih dalam yang lebih baik.

Semakin kenal, waktulah yang akan membuka semuanya. Tanpa melacurkan karya kita masih bisa untuk menikmati bahagianya berkarya walau sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s